Busana Muslimah

Busana Muslimah, Cocok Untuk Yang Muda dan Bergaya

Kaos Murah

Kaos Murah, Keren dan Gaul

Jaket

Jaket Murah, Keren dan Gaul

Jilbab

Jilbab Murah dan Keren

Kaos

Kaos Dakwah Islami

Kaos

Kaos Dakwah Islami Keren

Kaos

Kaos Bisnis Sukses Tanpa Riba

Kaos Dakwah Islami

Katakan Tidak Pada Riba

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2018

CARA MENGHANCURKAN MENTAL BLOCKK


Pernahkah Anda merasa kurang selangkah dari kesuksesan? Atau Anda merasa tidak akan berhasil walaupun telah mencoba?

Itulah yang dinamakan dengan mental block, yaitu adalah keadaan dimana seseorang mengalami hambatan pada mental dan psikologisnya, yang pada akhirnya membuat mereka tidak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya sehingga hasil akhir yang mereka dapatkan adalah kegagalan.

Mental block yang terjadi dalam diri seseorang terkadang bukan hanya terjadi karena mentalnya lemah, tetapi ada beberapa faktor penyebab terjadinya mental block.

Beberapa faktor penyebab mental block tersebut adalah:

*Trauma Pada Masa Lalu*

Seperti yang sudah kami sebutkan diatas, mental block adalah bentuk hambatan mental dan psikologi dalam diri seseorang. Psikologi tersebut muncul dari kejadian traumatis yang pernah mereka alami di masa lalu. Trauma tersebut membekas pada pikiran yang akhirnya menciptakan mental block.

*Kemauan yang Kurang*

Kurangnya kemauan dalam diri dan lemahnya semangat dalam kehidupan juga merupakan salah satu faktor penyebab mental block pada seseorang. Apalagi jika ditambah dengan kemampuan serta usaha yang mereka lakukan kurang.

*Kurang Percaya Diri*

Yang menjadi faktor penyebab mental block yang terakhir adalah tidak percaya diri. Percaya diri yang tidak tinggi membuat mereka menjadi tidak bernai mengambil langkah dan menciptakan sebuah mental block dalam diri mereka sendiri.

.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Cara mengatasi mental block yang bisa kita lakukan adalah:

*Cari Penyebab Mental Block, Lalu Hilangkan*

Kenali penyebab mental block yang membuat Anda merasa tidak nyamanan dan buanglah penyebab mental blok tersebut dari diri.

*Menjadi Diri Sendiri*

Jadilah diri sendiri dan jangan mencoba untuk meniru orang lain, Anda adalah Anda dan tidak akan pernah mampu untuk menjadi orang lain. Yakinlah pada kemampuan diri Anda sendiri bahwa Anda itu spesial.

*Gali Kemampuan yang Anda Miliki*

Ketahuilah potensi diri dan manfaatkan potensi tersebut untuk menjadi kemampuan yang kelak akan menjadi senjata dalam meraih kesuksesan.

*Latihlah Mental*

Biasakan untuk melatih mental Anda, terutama dalam berbicara dan berpendapat.

*Teruslah Menggali Ilmu Pengetahuan*

Pengetahuan yang luas dengan sendirinya mampu untuk meningkatkan mentalitas pada diri Anda.

*Jangan Hanya Berdiam Diri*

Tidak mencoba untuk diam ditempat, karena tindakan yang Anda lakukan merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi mental blok Anda.

*Jangan Takut Untuk Mencoba*

Saat pertama kali melakukan akan terasa sulit, namun kesulitan itulah yang akan membuat Anda lebih percaya diri dan memiliki mental yang kuat.

Semoga Bermanfaat,

Salam Sukses Dunia dan Akhirat,

*Hermawan Tandi*

Sabtu, 13 Januari 2018

Rumus Sukses

Banyak orang mengatakan bahwa :

Rumus SUKSES (red: nasib baik) adalah pertemuan antara KESEMPATAN dan KESIAPAN..

S = O + P
S = sukses
O = opportunity
P = preparation

Kesempatan adalah faktor external yang sulit, atau mungkin tidak bisa kita kendalikan.
Kesiapan adalah faktor internal yang segala sesuatunya bisa kita kendalikan.

Jadi idealnya kita harus senantiasa mempersiapkan diri dari segala aspek yg merupakan faktor internal diri saya, sembari menunggu hadirnya kesempatan atau peluang sebagai faktor external.

Namun *"kesuksesan"* itu tidak serta merta menjadi tolok ukur kebahagiaan. Semakin "sukses" ternyata tidak semakin bahagia. Yang muncul justru keresahan dan kegelisahan yg terus mengikuti. Grafik kesuksesan berbanding terbalik terhadap grafik kebahagiaan & ketenangan batin.

Saya merasakan ada yg salah disini

Saat awal2 mulai usaha yang ada malah pikiran 'kemrungsung', kekhawatiran yang luar biasa, dan rasa was was yg terus menghantui.

*Sampai akhirnya saya menemukan ada yang salah dalam rumus itu*

Karena banyak orang melupakan peranan Tuhan disitu. Dan selama ini ternyata banyak juga para motivator, coach, trainer yang juga menghilangkan peran sang pencipta dalam segala goal, strategi, target, analisa dan seabrek kiat sukses dalam hidupnya. Yang terjadi justru index kesuksesan meningkat namun index kebahagiaan malah menurun.

Kemudian rumus itu saya rubah..

S = (O + P) x T
T = Taqwa (red: doa)

Kita sering lupa, bahwa semua yang terjadi karena ijin Alloh. Kita perlu menyadari dan meyakini, kesempatan yang kita tunggu gak akan pernah datang tanpa seijin Allah, dan segala kesiapan kita sebenarnya Allah lah yang akan siapkan semuanya.
Dengan melibatkan Alloh, kita mampu menentukan mana yang baik & buruk, benar & salah, haq & batil.

Sehingga dalam setiap jengkal menuju kesuksesan bisa kita yakini proses nya sudah benar. Bukan keburukan yang dibungkus kebaikan, kesalahan berwajah kebenaran dan kebatilan yg menyuarakan haq.

Ada sensasi keikhlasan, kepasrahan dan kenikmatan tersendiri dalam setiap prosesnya. Klo kita sadari banyak sekali surprise2Nya. Kita hanya perlu mengakui dan mensyukurinya. Dan Insya Alloh nasib kita akan selalu baik.

Saya membuat tulisan ini bukan berarti saya sudah baik, benar atau sukses.  Saya hanya sedang belajar menikmati prosesnya.


Salam Sukses dan Bahagia Selalu

Transaksi Aneh: Jual-Beli Abu Hanifah dengan Seorang Perempuan

Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah suatu hari kedatangan seorang perempuan yang membawa pakaian sutra di tangannya. Perempuan ini berniat menjual kain mewah tersebut kepadanya.

"Berapa harganya," tanya Imam Abu Hanifah.

"Seratus dirham."

"Tidak. Nilai barang ini lebih dari seratus dirham."

Keruan saja si perempuan heran. Lazimnya pembeli selalu menawar barang dagangan dengan harga lebih murah. Tapi yang dilakukan ulama besar itu aneh.

Perempuan itu pun melipatgandaan harganya menjadi empat ratus dirham.

"Bagaimana bila barang itu lebih mahal lagi?"

"Anda bercanda?" Tanya perempuan tersebut tercengang.

"Datangkanlah seseorang untuk menaksir harganya!"

Ya. Perempuan itu akhirnya menghadirkan seorang laki-laki. Kata si laki-laki, "Pakaian sutra ini seharga lima ratus dirham."

Imam Abu Hanifah lantas membayarnya kontan dengan harga lima ratus dirham.

Ia paham, perempuan tersebut menjual sutra itu karena sedang sangat membutuhkan uang.

Kisah di atas tertuang dalam kitab Mausû’atul Akhlâq waz Zuhdi war Raqâiq (juz i) karya Yasir ‘Abdur Rahman dalam sub-bab ar-Rahmah bil Muhtâjîn (berkasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan).

Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah adalah di luar logika umum tentang untung-rugi dalam sudut pandang materi.

Beliau memberi contoh bahwa membeli sesuatu tak harus selalu berpikir bahwa kita mesti mendapat barang sebagus-bagusnya dengan harga semurah-murahnya.

Apalagi bila si pembeli tahu, penjual barang adalah orang yang membutuhkan pertolongan. Artinya, membeli juga bisa berarti membantu.

Teladan ini barangkali relevan dengan keadaan kita sekarang, di tengah gemarnya orang berbelanja di minimarket milik segelintir pemodal besar, ketimbang warung tetangga yang menjadi sumber nafkah dan pendidikan anak-anaknya.

Atau bersikerasnya orang menawar harga sayuran di pedagang kecil yang bernilai ribuan, namun di kesempatan lain menghabiskan ratusan ribu di restoran tanpa tawar-menawar atau merasa dirugikan.

Jumat, 12 Januari 2018

DIBAGI KEMANA UANGMU?

Dalam sebuah kajian seorang ustadz membahas kisah di masa lalu yang diceritakan dalam sebuah hadist. Ketika masa itu sedang terjadi kekeringan di sebuah negeri, tanah-tanah kering tidak turun hujan, tanaman mati kurang air, banyak pemilik lahan yang putus asa. Sampai satu ketika ada seseorang yang mendengar suara di langit, “siramilah ladang si fulan dengan hujan”
Dia mencari ladang tersebut, dan ketemu ladang yang subur, sedangkan kanan kirinya kekeringan. Hujan membahasi ladangnya, sementara di wilayah lainnya hujan tak kunjung datang. Karena penasaran dia bertanya kepada pemilik ladang, apa amalannya sehingga ALLAH berikan keistimewaan pada ladangnya ini..
Jawabnya luar biasa, “setiap hasil dari ladangku ini aku bagi tiga, sepertiga aku berikan kepada fakir miskin untuk mereka makan, sepertiga untuk makan aku dan keluargaku, sepertiga lagu untuk aku putar kembali sebagai modal menanam ladang ini. Sepanjang tahun ladangku subur tidak pernah kekeringan..”
Masya ALLAH
Masya ALLAH
Ini ilmu yang indah.. hidup sebagai muslim itu Habbluminallah (hubungan dengan Allah) dan Habbluminannas (Hubungan dengan sesama manusia) itu harus imbang.
Kalau engkau ingin ALLAH ridho pada hidupmu, pada usahamu, pada rejekimu, jangan jadi egois dan seragam ingin memiliki semua rejeki yang sudah ALLAH berikan. Ditumpuk-tumpuk seolah takut kelaparan, gak peduli dengan kesusahan tetangga sekitar.
Kita hidup di zaman yang serba hedonis, harta adalah simbol kesuksesan yang seolah-olah harus selalu dipamerkan. Apalagi di zaman sosial media merajalela, punya mobil baru harus ditunjukkan, liburan keluar negeri selalu diupdate-kan, umroh pun harus dilaporkan, semua yang bisa menimbulkan decak kagum dan memancing komentar harus dieksis-kan! Setiap ada yang memuji di kolom komentar, sungguh jadi sebuah kelezatan!
Kenapa banyak yang ladangnya kering kerontang di tengah rejeki Allah yang tersebar dimana-mana?
Soalnya yang dipakai ilmu hedonis produk kapitalis. Kalau gak nekat gak bakal punya, kalau gak utang hidup nelangsa..
Sehingga kalau dapat rejeki, dapat untung, dapat gaji, pembagiannya begini..
40% buat makan dan rumah tangga
20% bayar cicilan mobil
10% bayar cicilan motor
5% bayar cicilan HP
10% buat liburan dan traveling
10% buat nongkrong sama entertain
15% bayar arisan 3 tempat
20% buat invest ke MLM abal-abal cepet balik modal.
Laaah lebih dah lebih dari 100% mas!!!
Tenaaang!
Masih ada kartu kredit tinggal gesek..
Masih ada Kredit Tanpa Agunan
Masih ada duit kantor bisa ditilep dulu
Masih bisa pinjem sana-sini gadaikan harga diri..
Zakatnya berapa?
“Zakat apaan sih?”
Sedekahnya kapan?
“Sedekah mahluk apaan sih ituh?”
Ada anak yatim dan orang miskin lapar..
“Laaah itu kan urusan mereka sendiri, emang mereka orang-orang malas kok!”
Yayayaya!
Pantess... pantess kalau hidupnya gersang sepanjang tahun!
Pantess kalau dibangkrutkan Allah..
Pantess kalau jauh dari ridhonya Allah..
pantess kalau hidupnya gak pernah tenang selamanya..
Ambil kaca lagi, kita nilai diri kita sendiri..
Yang nulis inipun penuh dosa dan aibnya ditutupi Allah sehingga kalian masih mau membacanya..
Hidup hanya sekali..
diberi Allah rejeki jangan sampai lalai tak bisa jadi bekal ketika mati..
Wahai sungguh sayang sekali...

Minggu, 07 Januari 2018

JAUHKAN ANAKMU DARI KEMUDAHAN

(Rhenald Khasali)

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja:
"Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu."

"Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan."
-

Senin, 01 Januari 2018

APA YANG DIPUNYAI TIDAK BISA SEMUA DIMILIKI


Pada prinsipnya semua orang  mempunyai : WAKTU, KEKUATAN, DAN UANG.

Bila kita mau sejenak merenungi, kita semua akan memasuki fase untuk memiliki ketiganya. Namun tidak bisa semua orang bisa memiliki ketiganya sekaligus.

1. Masa puber kita punya
    waktu dan kekuatan
    tetapi tidak punya
    "UANG".

2. Masa bekerja kita
    punya uang dan
    kekuatan, tetapi tidak
    punya "WAKTU".

3. Masa tua kita punya
    uang dan punya waktu,
    tetapi tidak punya
    "KEKUATAN" lagi.

Manfaatkan kesempatan hidup sebaik-baiknya selagi masih bisa bernapas. Itu lebih baik.

Terkadang kita selalu yakin bahwa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita.

Dan orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita jauh lebih baik darinya.

Hal itu terjadi dikarenakan kita khilaf untuk bersikap "MENSYUKURI APA YANG SUDAH KITA MILIKI".

Oleh sebab itu...

Nikmati hidup, sebelum hidup tidak bisa di nikmati. Dan selalu bersyukur atas segala nikmat & karunia hidup yang Allah berikan.

Sadari bahwa Allah pemilik ketiganya. Hanya dengan ridho Allah kita memilikinya.

Indahnya hidup bila kita memiliki waktu, uang dan kekuatan bersamaan. Itulah saya sebut Finansial Freedom.

Tidak capek pun perlu istirahat. Tidak kaya pun perlu bersyukur. Sadarlah hidup itu pendek. Pasti ada saatnya finish.

Jangan tertipu dengan usia muda. Karena syarat mati tidak harus tua.

Jangan terpedaya dengan tubuh & badan sehat. Karena syarat mati tidak mesti sakit.

Cita-citakan mencapai financial freedom, dengan kerja smart, dengan kualitas waktu dan kekuatan yang smart pula.

Fokus pada Allah, tingkatkan kualitas diri dan pola hidup sehat.

Jadilah penebar kebaikan. Selaraskan perbuatan dengan keinginan yang Allah mau, niscaya  Anda tidak hanya mempunyai Waktu, Uang dan Kekuatan. Tetapi akan memilikinya.

Mari jadikan awal 2018 menjadi momentum Sukses dunia akhirat. Momentum menjadi manusia yang financial freedom.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 31 Desember 2017

HIDUP INI IBARAT KERTAS

Pada saat kita lahir , orang tua membuatkan kita kertas, yaitu akte lahir.

Kita besar mengejar pendidkan untuk memperoleh kertas yaitu  ijazah.

Kita mencari pasangan hidup  untuk memiliki buku  nikah... Juga kertas.

Bekerja keras hanya untuk memperoleh uang, yang adalah kertas.

Paspor...kertas. Surat kepemilikan rumah...juga kertas.

Kehidupan kita layaknya hanya dikelilingi kertas-kertas.

Seiring waktu berlalu, semua dirobek. Kemudian dibuang dan dibakar.

Berapa banyak orang bersedih karena "kertas-kertas" yang dimilikinya. dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan "kertas-kertas" yang dimilikinya.

Tetapi...

Ada 1 (satu) lembar kertas yang tidak mungkin dilihat oleh manusia itu sendiri  yaitu,  Akte kematian nya sendiri!    

Manfaatkan kesempatan hidup sebaik-baiknya selagi masih bisa bernapas.

Isilah kertas kehidupan yang catatan nya tidak pernah kita lihat, yang dicatat olah Malaikat Allah dengan kebaikan.

Mulai dengan "MENSYUKURI APA YANG SUDAH KITA MILIKI".

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasehat baik.
Teruslah berbagi dalam kebaikan meskipun tidak banyak orang yang bisa memahami kita.

Kebaikan akan membawa kebahagiaan. Kebahagiaan akan membawa berkah.

Keburukan akan membawa malapetaka. Malapetaka akan membawa penderitaan.

Mari jadikan sisa isian kertas kehidupan kita agar lebih dekat dan bergantung pada Allah.

Semoga bermanfaat.

(Terinspirasi dari Catatan kiriman sahabat).

 
p